BeritaNasional

Dr. Emrus Sihombing ; Secepatnya Benahi Manajemen Komunikasi Publik Pemerintah

JAKARTA, (www.JNnews.co.id) | Hanya berselang kurang dari dua pekan dalam Bulan ini, dua menteri mengeluarkan pendapat berseberangan tentang mudik lebaran yang bisa membuat bingung masyarakat. Menteri yang satu mengatakan, pemerintah tidak akan melarang mudik Lebaran. Menteri lain mengemukakan, larangan mudik.

Hal ini disampaikan oleh Komunikolog Indonesia Dr. Emrus Sihombing melalui siaran persnya, Minggu (28/3/2021).

“Menteri Perhubungan menyatakan, pemerintah tidak akan melarang masyarakat untuk mudik pada Lebaran 2021 (Kompas.com, Selasa, 16 Maret 2021). Sementara Menko PMK mengemukakakan, larangan mudik akan mulai pada 6-17 Mei 2021 (Kompas.com, Jumat, 26 Maret 2021).

Perbedaan ini, dari aspek ilmu komunikasi, menunjukkan bahwa pengelolaan komunikasi publik pemerintah sampai saat ini masih lemah dan harus dibenahi secepatnya agar tidak terjadi berulang-ulang”, kata Pengamat ini.

“Untuk itu, saya menyarankan kepada Presiden dua hal. Pertama, sudah mendesak dilakukan re-manajemen komunikasi publik pemerintah agar yang selama ini terjadi tidak terulang dengan mengangkat pembantu presiden bidang komunikasi publik dari seorang komunikolog handal (menguasai konsep, metode, teori serta aksiologi komunikasi) dan dikenal di ruang publik untuk mengelola dan mengkoordinir keseluruhan komunikasi pemerintah. Ia sejatinya sekaligus berperan sebagai “penasehat” Presiden bidang komunikasi.

Dengan demikian, wacana publik semua hal yang terkait dengan fungsi dan tugas pemerintah dapat lebih “terjaga” dengan baik”, kata Dr. Emrus.

“Kedua, menteri yang belum paham betapa substantifnya fungsi dan peran komunikasi publik dalam pengelolaan pemerintahan sebaiknya “cuti” dulu untuk belajar (kuliah) tentang konsep dasar, teori komunikasi dan aksiologi komunikasi setidaknya dua semester.

Banner Iklan Sariksa

Jika pengetahuan dasar saja tentang ilmu komunikasinya belum memadai, maka pengelolaan komunikasi publik akan terus bermasalah sehingga masyarakat menjadi “korban” dari perilaku komunikasi publik para menteri tersebut”, demikian tutup Dr. Emrus.

Editor-Roy

Redaktur-

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button