NasionalOpini

Komunikolog Emrus Sihombing ; Solusi Politik Kisruh Di Demokrat

JAKARTA, (www.JNnews.co.id) | Selelah KLB, tampaknya Demokrat berada di tengah ketidakpastian dan berpotensi menimbulkan kekisruhan politik ke depan. Bahkan perang pesan komunikasi politik yang saling “membuka” kelemahan masa lalu di antara mereka bisa jadi tak terelakkan.

Untuk itu, daripada ke depan kemungkinan berisitegang yang bisa menyulut “api” semakin “memanas”, bahkan bisa jadi “membara” antara dua kekuatan politik (Moeldoko dan AHY) di Demokrat, sebaiknya SBY mengambil peran “penengah” membawa “suara perdamain politik” dengan bertukar kepentingan melalui kompromi politik.

Sebab, dua kekuatan ini ke depan, secara politik akan sama-sama melakukan konsolidasi “ke dalam” merebut dukungan dari kader dan pengurus Demokrat.

AHY akan sangat mudah mendapat dukungan luar biasa dari kader dan pengurus jika satu tahun masa kepemimpinannya demokratis, mendapat simpati, merasa nyaman, merangkul dan dialogis.

Sebaliknya, misalnya ada pemecatan sehingga kader dan pengurus lain tidak merasa nyaman, maka faksi AHY akan mengalami kesulitan bahkan akan “memeras keringat” dan sumberdaya lainnya untuk memperoleh dukungan.

Sebab, seluruh gaya kepemimpinan AHY selama ini sudah tertanam dalam peta kognisi dan rasa pada setiap kader dan jajaran pengurus Demokrat yang menentukan tingkat loyalitas. Dengan kata lain, tingkat loyalitas mereka sekaligus nilai raport AHY masa kepemimpinannya

Sementara Ketum terpilih versi KLB, Moeldoko akan lebih mudah melakukan konsolidasi karena sebagai pemimpin baru, kader dan pengurus memberi harapan perubahan kepadanya sebagai antitesis yang mereka alami di bawah kepemimpinan AHY. Bahkan dukungan politik dari eksternal, termasuk dari kelompok kepentingan, bisa saja mengalir lebih deras jika kepengurusan hasil KLB kelak memiliki legalitas.

-

Untuk itulah, sebelum jurang pemisah semakin menganga ke depan antara dua faksi besar tersebut (pimpinan Moeldoko versus AHY), SBY segera muncul membawa suara “perdamaian” politik atau islah, baik di internal Demokrat, utamanya faksi Moeldoko dan faksi AHY dengan prinsip kompromi politik yang mengakomodasi kepentingan para pihak dari berbagai faksi, maupun mengakomodasi kekuatan politik dari luar Demokrat.

Oleh karena itu, SBY perlu memetakan kekuatan politik, utamanya dari kompok penekan (pressure group) dari luar Demokrat. Atas dasar pemetaan tersebut, SBY perlu melakukan “safari” politik dengan membawa tawaran ide dan gagasan politik yang akomodatif untuk menuju terwujudnya saling pengertian politik di antara elit politik.

SBY sebagai politikus yang sudah menjabat dua periode memimpin negeri ini, menurut hemat saya, ia mengetahui tokoh-tokoh sentral di republik ini yang akan ditemui untuk menemukan solusolusi.

Oleh ; Dr. Emrus Sihombing (Ilmuan Komunikasi (Komunikolog) Indonesia

Editor ; Roy

Redaktur-Suwardi, SH

About Author

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
https://jnnews.co.id/