Pulang ke Jogja, Mario Aji Cerita Kena Tilang saat Berkendara di Spanyol Pembalap Indonesia Mario Suryo Aji membawa cerita tidak biasa ketika pulang ke Yogyakarta di sela kesibukannya mengikuti Kejuaraan Dunia Grand Prix musim 2026. Bukan hanya membahas persaingan di lintasan, Mario juga menceritakan pengalamannya terkena tilang ketika mengendarai mobil di Spanyol bersama pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama.
Insiden tersebut terjadi saat Mario dan Veda menempuh perjalanan dari Barcelona menuju Mora untuk menjalani latihan. Mario yang berada di balik kemudi disebut membawa mobil dengan kecepatan sekitar 120 kilometer per jam pada ruas yang memiliki batas 80 kilometer per jam.
Polisi Spanyol kemudian menghentikan kendaraan mereka. Mario harus membayar denda sekitar Rp3,5 juta secara langsung. Sementara itu, Veda yang duduk di kursi penumpang justru sedang tertidur dan baru terbangun ketika mobil dihentikan petugas.
Cerita itu disampaikan dengan suasana ringan ketika kedua pembalap kembali bertemu keluarga dan komunitas otomotif di Yogyakarta. Meski terdengar menghibur, pengalaman tersebut memberi pelajaran mengenai ketatnya penerapan aturan lalu lintas di Spanyol dan pentingnya memahami batas kecepatan ketika berkendara di negara lain.
Mario saat ini berlaga pada kelas Moto2 bersama Honda Team Asia. Ia sebelumnya menghabiskan beberapa musim di Moto3 sebelum naik kelas. Adapun Veda menjalani musim perdananya di Moto3 pada 2026 bersama tim yang sama.
Perjalanan Latihan dari Barcelona Menuju Mora
Peristiwa tilang bermula dari perjalanan latihan yang harus dijalani Mario dan Veda di Spanyol. Keduanya berangkat dari Barcelona menuju Mora, daerah yang menjadi salah satu lokasi latihan pembalap.
Perjalanan tersebut membutuhkan waktu sekitar dua setengah jam dengan mobil. Mario dan Veda disebut bepergian tanpa pendamping sehingga seluruh kebutuhan selama perjalanan harus mereka atur sendiri.
Mario mengambil peran sebagai pengemudi, sedangkan Veda duduk di kursi penumpang. Jadwal latihan dan perjalanan yang padat membuat Veda tertidur selama mobil melaju.
Pada satu ruas jalan, Mario mengendarai mobil dengan kecepatan sekitar 120 kilometer per jam. Ia tidak menyadari atau terlambat memperhatikan bahwa batas kecepatan pada jalur tersebut hanya 80 kilometer per jam.
Perbedaan 40 kilometer per jam cukup besar untuk memicu tindakan langsung dari kepolisian. Petugas kemudian menghentikan mobil yang dikendarai Mario.
Pengalaman tersebut memperlihatkan tantangan hidup pembalap di luar lintasan. Mereka tidak selalu didampingi tim dalam setiap kegiatan. Ada kalanya pembalap harus mengemudi, mencari lokasi latihan, mengatur jadwal, serta menyelesaikan persoalan perjalanan secara mandiri.
Veda Terbangun ketika Mobil Dihentikan Polisi
Bagian yang mengundang tawa muncul ketika Veda baru menyadari situasi setelah kendaraan berhenti. Ia sebelumnya tertidur selama perjalanan dan terbangun saat Mario sedang berhadapan dengan polisi.
Veda tidak mengetahui secara langsung bagaimana kecepatan mobil meningkat atau kapan petugas mulai mengikuti kendaraan mereka. Ketika membuka mata, ia mendapati perjalanan latihan berubah menjadi pemeriksaan lalu lintas.
Mario kemudian harus menjelaskan pelanggaran dan mengikuti arahan petugas. Denda dibayarkan di tempat sesuai prosedur yang berlaku dalam penanganan pelanggaran tersebut.
Nilainya disebut mencapai sekitar Rp3,5 juta. Bagi Mario, jumlah itu tentu menjadi pengeluaran tidak terduga dalam perjalanan yang awalnya hanya ditujukan untuk latihan.
Cerita Veda yang tertidur membuat pengalaman tersebut terasa lebih ringan ketika disampaikan kembali. Namun, Mario tetap mengakui kesalahannya karena mengendarai mobil melewati batas yang telah ditentukan.
“Pengalaman Mario menunjukkan bahwa kemampuan mengendalikan motor balap dengan kecepatan tinggi tidak membuat seorang pembalap bebas mengabaikan batas kecepatan ketika berada di jalan umum.”
Aturan Kecepatan di Spanyol Diterapkan Ketat
Spanyol mempunyai jaringan jalan yang luas dengan batas kecepatan berbeda berdasarkan jenis ruas, lokasi, serta kondisi lingkungan. Pengendara harus memperhatikan rambu karena batas dapat berubah ketika memasuki wilayah permukiman, jalan penghubung, terowongan, atau bagian tertentu yang dinilai mempunyai risiko lebih tinggi.
Kebiasaan berkendara di Indonesia tidak selalu dapat diterapkan begitu saja di Eropa. Bentuk rambu, penempatan kamera, sistem pembayaran denda, dan prosedur pemeriksaan dapat berbeda.
Bagi pendatang, penggunaan aplikasi navigasi dapat membantu mengetahui batas kecepatan. Namun, informasi pada layar tidak boleh menggantikan perhatian terhadap rambu yang terpasang di jalan.
Pengemudi juga perlu memahami bahwa jalan yang terlihat sepi dan lebar belum tentu mengizinkan kendaraan melaju sangat cepat. Batas dapat dibuat berdasarkan jarak pandang, persimpangan, akses warga, atau catatan kecelakaan.
Mario yang terbiasa melaju pada kecepatan tinggi di lintasan tetap harus mengikuti aturan yang sama dengan pengemudi lain ketika berada di jalan raya.
Lintasan balap memiliki pagar keselamatan, petugas, area pelebaran, perlengkapan pelindung, dan arah pergerakan yang dikendalikan. Jalan umum mempunyai kendaraan dari berbagai arah, pengguna yang berbeda, serta situasi yang tidak dapat diperkirakan.
Denda Dibayar Langsung di Tempat
Mario menceritakan bahwa denda pelanggaran tersebut dibayar langsung ketika pemeriksaan berlangsung. Nilainya sekitar Rp3,5 juta setelah dikonversikan ke mata uang Indonesia.
Pembayaran langsung dalam prosedur tertentu dapat diterapkan kepada pengendara asing atau orang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap di negara tersebut. Tujuannya memastikan kewajiban tidak ditinggalkan setelah pelanggar melanjutkan perjalanan.
Mario tidak memperpanjang persoalan. Ia mengikuti arahan polisi, menyelesaikan pembayaran, lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat latihan.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa kejadian tidak berkembang menjadi masalah hukum yang lebih berat. Pelanggaran diselesaikan sebagai perkara lalu lintas.
Meski demikian, denda bukan satu satunya kerugian. Perjalanan tertunda dan konsentrasi menjelang latihan dapat terganggu. Pengalaman tersebut juga membuat Mario harus lebih berhati hati selama mengemudi di Spanyol.
Bagi pembalap internasional, kepatuhan di luar arena ikut menjadi bagian penting dari profesionalitas. Perilaku mereka dapat diperhatikan oleh tim, sponsor, serta masyarakat yang mengikuti kariernya.
Mario Aji Kini Berlaga di Kelas Moto2
Penyebutan Mario sebagai pembalap Moto3 perlu ditempatkan sesuai perjalanan kariernya. Mario memang pernah berlaga di kelas Moto3, tetapi pada musim 2026 ia berkompetisi di Moto2 bersama Idemitsu Honda Team Asia.
Mario naik ke Moto2 setelah mengembangkan kemampuan selama dua musim di Moto3. Perpindahan kelas membawa tantangan besar karena motor Moto2 memiliki tenaga, bobot, serta karakter yang berbeda.
Pada Moto2 Spanyol di Sirkuit Jerez, April 2026, Mario memulai balapan dari posisi ke 17. Ia sempat naik ke urutan ke 12 sebelum terjatuh di tikungan 11 pada lap ke 16.
Hasil tersebut belum memberikan poin, tetapi menunjukkan bahwa Mario memiliki kecepatan untuk berada di kelompok yang memperebutkan posisi lebih baik.
Mario juga sempat mencatat posisi start kesembilan pada Moto2 Thailand 2026. Catatan itu memperlihatkan kemampuannya ketika berhasil menemukan pengaturan motor yang sesuai sejak sesi latihan dan kualifikasi.
Perjalanan di Moto2 menuntut konsistensi tinggi. Selisih waktu antarpembalap sangat tipis sehingga kesalahan kecil dapat membuat posisi turun beberapa baris.
Veda Ega Menjalani Musim Pertama di Moto3
Berbeda dari Mario, Veda Ega Pratama baru memasuki musim pertamanya di Kejuaraan Dunia Moto3 pada 2026. Pembalap asal Gunungkidul, Yogyakarta, tersebut juga bergabung dengan Honda Team Asia.
Veda datang dengan catatan kuat dari ajang pembinaan. Ia pernah tampil di Asia Talent Cup, JuniorGP, serta Red Bull MotoGP Rookies Cup.
Sebelum memasuki musim 2026, Mario dan Veda dijadwalkan berangkat ke Barcelona untuk melakukan adaptasi serta membangun hubungan kerja dengan teknisi dan kru Honda Team Asia.
Keberadaan Mario menjadi keuntungan bagi Veda. Mario telah lebih dahulu tinggal dan berlaga di Eropa sehingga memahami pola kerja tim, perjalanan antarsirkuit, cuaca, serta tekanan dalam kejuaraan dunia.
Mereka dapat saling bertukar informasi meskipun berlaga di kelas berbeda. Mario memahami tuntutan Moto3 dari pengalamannya sendiri, sedangkan Veda membawa semangat baru sebagai pendatang.
Perjalanan bersama menuju Mora memperlihatkan kedekatan keduanya di luar lintasan. Mereka bukan hanya rekan satu organisasi, tetapi juga sesama pembalap Indonesia yang menjalani kehidupan jauh dari keluarga.
Pulang ke Yogyakarta Menjadi Waktu Berharga
Jadwal Kejuaraan Dunia MotoGP membuat pembalap harus berpindah dari satu negara ke negara lain hampir setiap pekan. Waktu untuk pulang ke Indonesia menjadi sangat terbatas.
Ketika memperoleh jeda, Mario memilih kembali ke Yogyakarta. Kota tersebut mempunyai hubungan penting dengan perjalanan balapnya karena menjadi salah satu tempat ia berlatih dan membangun kemampuan sejak muda.
Pulang tidak hanya berarti beristirahat. Pembalap tetap perlu menjaga kondisi fisik melalui latihan, pemulihan, serta pengaturan pola makan.
Kesempatan bertemu keluarga memberi dukungan emosional yang sulit diperoleh ketika berada di Eropa. Perjalanan panjang, tekanan hasil, cedera, serta persaingan dapat membuat musim balap terasa berat.
Mario dapat memanfaatkan waktu di Yogyakarta untuk melepas penat sebelum kembali menghadapi seri berikutnya. Cerita mengenai tilang di Spanyol kemudian menjadi salah satu pengalaman yang dibagikan kepada orang terdekat.
Bagi penggemar, cerita semacam itu memperlihatkan sisi lain seorang atlet. Pembalap yang terlihat sangat berani di atas motor tetap dapat menghadapi persoalan sehari hari seperti pengendara lain.
Kehidupan Pembalap Eropa Tidak Hanya Soal Balapan
Publik sering melihat pembalap melalui siaran akhir pekan. Mereka datang ke sirkuit, melakukan latihan, mengikuti kualifikasi, lalu bertarung dalam balapan.
Di balik itu, terdapat banyak kegiatan yang tidak terlihat. Pembalap harus mengatur perjalanan, berpindah hotel, menyesuaikan waktu, menjaga kebugaran, mengikuti rapat teknis, serta menghadiri kegiatan sponsor.
Latihan fisik juga tidak selalu dilakukan di sekitar sirkuit. Mereka dapat melakukan perjalanan ke pusat kebugaran, lintasan motor kecil, jalur sepeda, atau tempat latihan lain.
Mario dan Veda pergi dari Barcelona menuju Mora sebagai bagian dari kebutuhan tersebut. Perjalanan dua setengah jam menunjukkan latihan tambahan membutuhkan komitmen tersendiri.
Pembalap muda juga harus belajar hidup mandiri. Mereka mengurus pakaian, makanan, dokumen, kendaraan, serta berbagai kebutuhan sehari hari tanpa selalu ditemani keluarga.
Kemampuan mengelola kehidupan di luar lintasan sangat berpengaruh terhadap persiapan. Keterlambatan, kelelahan, atau masalah administratif dapat mengurangi fokus saat menjalani balapan.
Kecepatan di Lintasan Berbeda dengan Jalan Umum
Sebagai pembalap profesional, Mario terbiasa mengendarai motor dengan kecepatan lebih dari 200 kilometer per jam. Ia mempunyai kemampuan membaca tikungan, mengerem, serta mengendalikan kendaraan jauh di atas pengemudi biasa.
Namun, keahlian tersebut digunakan dalam lingkungan yang telah disiapkan khusus. Setiap pembalap memakai helm, pakaian pelindung, sarung tangan, dan sepatu balap.
Sirkuit juga memiliki marshal, layanan medis, serta zona yang dirancang untuk mengurangi risiko ketika pembalap keluar jalur.
Jalan raya tidak menyediakan keadaan serupa. Pengemudi harus berhadapan dengan kendaraan yang dapat berpindah jalur, orang yang menyeberang, persimpangan, serta permukaan yang tidak selalu sempurna.
Batas kecepatan dibuat untuk seluruh pengguna, termasuk pembalap profesional. Kemampuan individu tidak menjadi alasan untuk melampaui ketentuan.
“Cerita tilang ini dapat terdengar lucu setelah semuanya selesai, tetapi pesan keselamatannya tetap jelas. Jalan umum bukan tempat menguji kemampuan balap.”
Pengalaman Menjadi Pengingat bagi Pembalap Muda
Mario dapat menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan pembelajaran bagi Veda dan pembalap muda lain. Tinggal di luar negeri membutuhkan perhatian tidak hanya pada kompetisi, tetapi juga aturan setempat.
Pelanggaran lalu lintas dapat menjadi lebih rumit apabila melibatkan kecelakaan, korban, atau dokumen kendaraan. Karena itu, memahami aturan sebelum mengemudi menjadi langkah penting.
Tim juga dapat mengingatkan pembalap mengenai penggunaan kendaraan, batas kecepatan, asuransi, serta dokumen yang wajib dibawa.
Bagi pembalap yang baru pindah ke Eropa, perbedaan posisi kemudi, arah jalan, dan kebiasaan pengendara juga membutuhkan penyesuaian.
Mario mempunyai pengalaman lebih panjang sehingga sering menjadi sosok yang membantu Veda. Namun, kejadian tersebut menunjukkan pembalap senior pun tetap dapat melakukan kesalahan.
Cara Mario mengakui dan menceritakannya secara terbuka dapat menjadi contoh bahwa pelanggaran tidak perlu ditutupi, tetapi harus diselesaikan dan tidak diulangi.
Persaingan Moto2 2026 Tetap Menjadi Fokus Utama
Setelah waktu istirahat di Indonesia selesai, Mario harus kembali mengarahkan perhatian pada Moto2. Persaingan kelas menengah tersebut dikenal sangat rapat.
Pada Mei 2026, Mario turun ke posisi ke 24 klasemen sementara setelah tidak mengikuti putaran Catalunya.
Absennya Mario membuat kesempatan mengumpulkan poin berkurang. Ia perlu memanfaatkan seri berikutnya untuk kembali mendekati posisi yang lebih baik.
Hasil akhir tidak hanya dipengaruhi kecepatan satu putaran. Mario harus menjaga ban, menghindari kecelakaan, serta konsisten selama balapan.
Pengalaman di Jerez menunjukkan ia dapat bergerak maju dari posisi start ke 17 menuju urutan ke 12. Sayangnya, kecelakaan membuat seluruh usaha itu tidak menghasilkan poin.
Mario perlu mengubah kecepatan tersebut menjadi hasil sampai garis finis. Keberhasilan melakukannya akan memperkuat posisinya di dalam tim dan membuka peluang karier yang lebih besar.
Dukungan Indonesia Mengiringi Mario dan Veda
Mario dan Veda menjadi dua wakil Indonesia dalam rangkaian Grand Prix 2026. Keduanya membawa jalur karier yang dibangun melalui program pembinaan Astra Honda.
Mario lebih dahulu membuka jalan dari Moto3 menuju Moto2. Veda kemudian menyusul ke Moto3 setelah menunjukkan prestasi dalam kejuaraan junior.
Kehadiran dua pembalap dalam satu lingkungan tim memudahkan koordinasi. Mereka dapat saling mendukung ketika menghadapi hasil buruk maupun tekanan yang datang dari persaingan.
Masyarakat Indonesia juga memperoleh dua alasan untuk mengikuti setiap seri. Perhatian tidak hanya tertuju kepada hasil akhir, tetapi juga perkembangan kecepatan dan kemampuan mereka beradaptasi.
Cerita tilang di Spanyol menjadi selingan dari perjalanan serius tersebut. Mario dan Veda tetap harus menghadapi jadwal latihan serta balapan yang menuntut fisik dan mental.
Ketika kembali ke Eropa, pengalaman itu kemungkinan membuat Mario lebih rajin memperhatikan rambu. Denda Rp3,5 juta menjadi pengingat mahal bahwa kecepatan harus ditempatkan pada ruang yang sesuai.
Di sirkuit, Mario dituntut melaju secepat mungkin. Di jalan umum, ia tetap harus menahan pedal gas dan mengikuti batas yang berlaku. Perbedaan sederhana tersebut menjadi salah satu pelajaran yang dibawa Mario ketika pulang ke Yogyakarta dan membagikan kisah hidupnya sebagai pembalap Indonesia di Spanyol.






